Sabtu, 08 Januari 2011

KH. Zainul Arifin, Panglima Hizbullah NU


Biografi Pemuda NU KH. Zainul Arifin, Panglima Hizbullah

Beliau lahir tahun 1909 di Barus, sebuah kota kecil di pantai barat Sumatera Utara. Kota yang terkenal karena produk kapur barusnya sejak 160 Masehi. Kota ini pun semakin harum karena telah melahirkan banyak ulama-ulama besar, diantaranya Hamzah Fansuri, seorang sufi yang terkenal dengan kitab tasawufnya.
Pengetahuan ke-militeran H. Zainul Arifin muda didapatkannya dari pelatihan militer pertama oleh tentara Jepang. Kemenonjolan dan ketangkasannya membuat dia diangkat sebagai Komandan Batalion Hizbullah dan kemudian diangkat menjadi Panglima Hizbullah. Anggotanya yang ribuan orang, terutama di Jawa dan Sumatera sebagian besar mangikuti pendidikan militer gaya Jepang di Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat. Dalam kapasitas sebagai panglima Hizbullah itu, KH. Zainul Arifin kerap melakukan inspeksi pasukan, terutama di basis-basis pejuangan umat Islam yaitu pondok-pondok pesantren. Konsolidasi yang terus-menerus dengan peningkatan keterampilan bertempur, membuat Hizbullah menjadi wadah lasykar rakyat yang disegani dan berwibawa.
Beliau pernah menduduki jabatan Sekretaris pada Pucuk Pimpinan TNI atau semacam Sekretaris Jenderal (Sekjen) Deparetemen Pertahanan Keamanan sekarang. Ketika Hizbullah dilebur ke dalam TNI (1945). KH. Zainul sangat kecewa dan prihatin ketika banyak anggota Sabilillah dan Hizbullah yang tidak lulus untuk masuk TNI padahal mereka itu yang paling gigih dalam perjuangan kemerdekaan. Kebijakan itu diangggapnya sebagai upaya sistematis para bekas perwira KNIL yang berkuasa dalam TNI untuk menyingkarkan para Lasykar rakyat pejuang yang nasionalis. Bahkan sejarah perjuangan luar biasa NU dan Hizbullah pun secara sistematis dikaburkan dari lembaran sejarah, seperti kritik seorang peneliti dan pemerhati Indonesia dari Belanda, Martin Van Bruinessen- NU tak pernah mendapat tempat memadai dalam berbagai kajian pada tingkat lokal dan regional mengenai perjuangan kemerdekaan. Namun para kiai dan santri itu sendiri meminta agar KH. Zainul tidak memperpanjang masalah itu. Bagi kyai-santri berjuang semata-mata *lillahi ta’ala* untuk memerdekakan bangsa ini, bukan untuk mengejar nama baik, pangkat maupun jabatan. Hanya beberapa Lasykar Hizbullah yang diterima di TNI, bagi mereka yang tidak lolos masuk TNI mereka menerima dengan ikhlas dan kembali ke pondok pesantren untuk mendidik generasi muda.
Pada tahun 1947, KH. Zainul Arifin diangkat sebagai anggota KNIP berkedudukan di Yogyakarta. Ketika Belanda melancarkan agresi untuk mencengkeramkan kukunya kembali di tanah air. KH. Zainul ikut bergerilya dan menjabat sebagai staf Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa. Salah satu tugasnya adalah mengonsolidasikan wadah-wadah perjuangan yang tersebar dimana-mana, termasuk dengan kelompok gerilya Jenderal Besar Sudirman.
Ketika shalat Idul Adha tahun 1962 di Masjid Baiturrahim di halaman Istana Merdeka dengan Imam KH. Zainul Arifin dan Bung Karno sebagai makmum. Saat melaksanakan
sembahyang itu tiba-tiba mendapat serangan udara secara mendadak. Serangan
itu dilakukan oleh sisa-sisa gerombolan pemberontak PRRI Permesta yang mau
menghancurkan Indonesia untuk kepentingan penjajah. Bung Karno selamat dalam
insiden yang amoral itu, tetapi KH. Zainul Arifin bekas panglima Hizbullah
itu mengalami-luka-luka. Dari peristiwa tersebut kesehataanya mulai memburuk dan beliau wafat pada maret 1963 dalam usia 54 tahun. Sebagai seorang pejuang, beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dan ketika itu beliau masih menduduki jabatan sebagai wakil ketua DPR-GR.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar