Kamis, 06 Januari 2011

Khutbah Tafsir : Ayat ke 5 al-Fatihah - Kesempurnaan Cinta, Tunduk dan Takut


Tafsir Ayat ke 5 Surat Al-Fatihah
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ .اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. امابعدفَيَاآيُّهَا الْحأضِرُوْنَ الْكِرَامِ .  اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin sidang jum'at rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah dalam arti yang sebenar-benarnya, yakni menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Dalam al-Qur'an surat pertama ayat 5 Allah telah berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ(5)
(5). Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Iyyaka adalah qiraah mayoritas ulama, tapi sebagian ulama lain ada yang membaca ayyaka, dan sebagian lagi hayyaka, dengan memakai ha sebagai ganti hamzah. Iyyaka bermakna Hanya Engkaulah, sementara na'budu, bermakna yang kami sembah/ibadah. Al-'ibadah menurut bahasa bermakna adz-dzullah, artinya "mudah dan tunduk", sehingga dikatakan tariqun mu'abbadun artinya jalan yang telah dimudahkan (telah diaspal), dan ba'irun mu'abbadun artinya "unta yang telah dijinakkan dan mudah dinaiki (tidak liar)". Sehingga orang yang beribadah adalah orang yang tidak liar karena nafsunya telah tunduk dan ditundukkan oleh Allah. Orang yang beribadah adalah orang yang hidupnya teratur karena telah tunduk kepada batasan-batasan syari'at. Sedangkan menurut istilah syara' ibadah adalah:
عِبَارَةٌ عَمَّا يُجْمَعُ كَمَالُ الْمَحَبَّةِ وَالْخُضُوْعِ وَالْخَوْفِ
Suatu ungkapan hasil dari kumpulnya kesempurnaan rasa cinta, tunduk dan takut.
Ibadah adalah bersatunya cinta, tunduk dan takutnya kita  kepada Allah. Karenanya, jika kita ingin diakui sebagai hambanya Allah yang sesungguhnya, maka seluruh ibadah yang kita lakukan janganlah lahir dari keterpaksaan, apalagi riya' yakni semangat beribadah karena ingin dilihat orang lain, jika tidak ada yang melihat dan menyaksikan menjadi malas beribadah. Ibadah haruslah dari sebuah kesadaraan dan kesungguhan hati yang terdalam. Saat kita dapat menyatukan cinta-tunduk dan takut, saat itulah kita baru diakui oleh Allah sebagai 'abid atau orang yang selalu beribadah.
Hadirin sidang jum'at yang dirahmati Allah
Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, dalam ayat tersebut Allah mendahulukan iyyaka (hanya kepada-Mu) yang dalam tata bahasa ia adalah maf'ul atau objek yang didahulukan sebelum fi'il dan fa'il atau sebelum kata kerja dan pelakunya, dan juga Allah mengulangi iyyaka dua kali, yakni iyyaka na'budu dan iyyaka nasta'in, semua itu untuk lil ihtimam wal hasri yakni untuk menunjukkan makna penting dan pembatasan. Begitu pentingnya apa yang difirmankan-Nya, maka "hanya kepada-Mu" diulang 2 kali, bahwa beribadah dan berserah diri-meminta tolong kepada Allah adalah hal utama bagi manusia. Dan dalam beribadah dan berserah diri, Allah memberlakukan pembatasan, yakni "hanya kepada Engkau ya Allah", bukan kepada yang lain-Nya. Dengan kata lain, kami tidak menyembah kecuali hanya kepada Engkau, dan kami tidak bertawakal-memasrahkan diri kecuali hanya kepada Engkau. Pengertian ini merupakan kesempurnaan dari ketaatan. Agama secara keseluruhan berpangkal dari kedua makna tersebut. Sebagaimana sebagian ulama salaf berkata:
الفَاتِحَةُ سِرُّ الْقُرْآنِ، وَسِرُّهَا هَذِهِ الْكَلِمَةُ: { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }
Bahwa surat al-fatihah merupakan rahasia al-Qur'an; sedangkan rahasia surat al-Fatihah terletak pada kedua kalimat ini "iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan".
Yang pertama yakni "hanya kepada-Mu kami menyembah" menunjukkan   تَبَرُّؤٌ مِنَ الشِّرْكِ makna berlepas diri darinya kita dari segala kemusyrikan, yakni "Hanya Engkau yang kami sembah ya Allah" bukan yang lain-Nya. Dan yang kedua "hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" menunjukkan تَبَرُّؤٌ مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ  وَالتَّفْوِيْضِ  makna berlepas diri dari daya-upaya dan kekuatan serta berserah diri kepada Allah. Bahwa kami tidak mempunyai daya-upaya dan kekuatan, maka kami berserah diri semata-mata kepada-Mu ya Allah semoga Engkau memberikan daya-upaya kepada kami untuk bisa taat mengikuti semua perintah-Mu, dan semoga pula Engkau memberi kekuatan kepada kami agar bisa terhindar dan menghindar dari semua larangan-larangan-Mu.
Dalam tafsir Ruhul Ma'ani, al-Alusi menyatakan:
{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } بَيَانُ لِحَمْدِهِمْ كَأنَّهُ قِيْلَ كَيْفَ تَحْمَدُوْنِي فَقِيْلَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
iyyakana'budu wa iyyaka nasta'in adalah penjelasan/bukti dari pujian hamba. Karena diawal ia membaca al-hamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, maka seakan-akan seorang hamba ditanya "bagaimana cara kamu semua memuji Aku", maka hamba menjawab "Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan".
Lebih lanjut al-Alusi mengatakan bahwa surat al-Fatihah sampai ayat ke 4 maaliki yaumid din adalah bentuk syukur bil lisan (syukur dengan ucapan), dan iyyaka na'budu, hanya Engkaulah yang kami sembah adalah as-syukru bil jawarih, atau syukur dengan anggota badan, yakni seorang hamba membuktikan syukur itu dengan shalat dan ketundukan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Sedang iyyaka masta'in hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan adalah as-syukru bil qolbi atau bentuk syukur dengan hati yang benar-benar memasrahkan semuanya kepada Allah swt.

Ketika kita telah mampu menyatukan cinta, tunduk dan takut yang itu juga berarti kita telah mampu bersyukur dengan lisan, anggota badan dan hati, maka sungguh saat itu kita telah menjadi 'abid atau orang yang selalu beibadah. Karena sungguh, kita akan tergolong sebagai seorang pendusta agama, jika kita menyatakan cinta kepada Allah tetapi raga kita tidak tunduk dan tidak menjalankan perintah-Nya dengan semangat dan senang hati. Dan dustalah kita jika kita mengaku tunduk pada Allah, tetapi sedikitpun kita tidak ada rasa takut ketika mendekati dan bahkan melanggar batasan-batasan larangan agama.
Hadirin sidang jum'at yang dirahmati Allah
Dan dari ayat pertama surat al-Fatihah sampai ayat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in telah diatur oleh Allah sebagai sebuah runtutan metode dan kode etik dalam beribadah kepada Allah. Pertama, sebagaimana hadits Nabi, siapa yang cinta, maka ia banyak menyebutnya. Kita yang mengaku cinta Allah, maka buktinya adalah lisan kita yang selalu basah oleh ayat-ayat al-Qur'an dan dzikir kepada Allah. Kedua, untuk mendapat cinta dan ridha Allah tidak cukup dengan memuji-muji Allah, kita harus na'budu, menyembah Allah dengan shalat dan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Setelah dua hal itu kita lakukan, maka barulah kita layak menginjak yang ketiga, yakni meminta, memohon dan berdoa kepada Allah. Sekalipun Allah telah berfirman dalam surat al-Mu'min ayat 60 wa qaala rabbukum ud'uunii astajib lakum, Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Tetapi jika kita berdoa tidak seperti tuntunan Allah yang tersirat dalam surat al-Fatihah, maka kita tidak ubahnya seperti karakteristik tiga orang hamba atau budak yang tidak mempunyai etika terhadap Tuannya. Budak yang pertama, ia tidak bekerja tapi selalu meminta upah, budak kedua, ia kurang bekerja tapi banyak permintaan, atau budak yang ketiga, belum bekerja tetapi sudah meminta upah terlebih dahulu.
Mungkin selama ini doa-doa kita tidak diijabah oleh Allah, karena mungkin pertama, kita tidak bisa menempatkan diri kita, bahwa selama ini kita sering menganggap diri kita sebagai pekerja dihadapan Allah, yang harus selalu diupah, padahal posisi kita sebenarnya adalah al-abd yakni hamba hina dina atau budak. Kedua, kita terlalu banyak meminta dan menuntut hak kepada Allah, sementara kewajiban kita kepada-Nya belum kita tunaikan. Disinilah rahasia iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in yang menurut imam Qatadah ialah "Allah memerintahkan kepada kita agar ikhlas dalam beribadah kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam semua urusan kita", sehingga iyyaka na'budu didahulukan atas iyyaka nasta'in tidak lain karena ibadah kepada Allah merupakan tujuan utama, sedang meminta tolong merupakan sarana untuk melakukan ibadah, maka didahulukanlah yang lebih penting. Dan karena itu pulalah, para salafus shalihin selalu merangkai doa-doa dengan diawali ibadah dahulu, yakni dengan shalat, membaca al-Qur'an ataupun dzikrullah terlebih dahulu, baru kemudian berdoa kepada Allah. Itulah adab dan sopan santun seorang hamba kepada Tuhannya.
Hadirin sidang jum'at yang dirahmati Allah
Jika kita selalu menunaikan kewajiban kita kepada Allah, maka yakin hak-hak kita sebagai hamba pun pasti akan diberikan bahkan akan berlebih yang diberikan oleh Allah. Hal ini sebagaimana terlukis sangat baik dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh imam Muslim:
Allah swt. berfirman, "Aku bagikan shalat untuk-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian; satu bagian untuk-Ku dan sebagian yang lain untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta". Apabila seorang hamba mengatakan, "segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam", maka Allah berfirman, "hamba-Ku telah memuji-Ku". Apabila ia mengatakan "ar-rahmanir rahim, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang", maka Allah berfirman "hamba-Ku telah menyanjung-Ku". Apabila ia mengucapkan, "maaliki yaumid din, Yang menguasai hari pembalasan", maka Allah berfirman, "hamba-Ku telah mengagungkan Aku". Apabila ia membaca "iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan", Allah berfirman "ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta" (H.R. Muslim)
Iyyaka na'budu, hanya Engkaulah yang kami sembah, adalah sesuatu yang dipersembahkan seorang hamba kepada Sang Khaliq, sedang iyyaka nasta'in, hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan adalah permohonan untuk kepentingan hamba atau kita sendiri, maka Allah berfirman, "bagi hamba-Ku apa yang ia minta".

بَارَكَ اللهُ لِي وَلكُمْ فِى الْقُرآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّحِمِيْنَ
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar