Sabtu, 11 Desember 2010

Kang Sejo Melihat Tuhan

Kisah-Kisah Sufi
KANG SEJO MELIHAT TUHAN
 
Bukan salah saya kalau suatu  hari  saya  ceramah  agama  di
depan  sejumlah  mahasiswa  Monash  yang, satu di antaranya,
Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot
mesti  panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk
mesti  halal  meat.  Dan,  semangat  mesti  ditujukan   buat
meng-Islam-kan  orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak
Islami.
 
Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya  campur  aduk  dengan
wayang.  Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya
saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab  ketika
itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita.
Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir  qolbi.  Jasad  di
bumi,  roh  menemui  Tuhan.  Ini turu lali, mripat turu, ati
tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia
kaum sufi.
 
Biar  masih  muda,  hidup  Gatutkaca  seimbang, satu kaki di
dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa,
sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat ...
 
Juli  tahun  lalu  saya  dijuluki Gus Dur sebagai orang yang
doanya  pendek.  Bukan   harfiah   cuma   berdoa   sebentar.
Maksudnya,  tak  banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak
banyak itu saya amalkan.
 
"Dan itu betul. Artinya, banyak  ilmu  ndak  diamalkan  buat
apa?"   kata   Pak   Kiai  sambil  bergolek-golek  di  Hotel
Sriwedari, Yogya. Apa yang  lebih  indah  dalam  hidup  ini,
selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa
hidup jadi kepenak, nikmat.
 
Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut  "raja."  Wanita  ini
hamba  yang  total.  Hidupnya buat cinta. Gemerlap dunia tak
menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi.  Pernah  ia
berkata,  "Bila  Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi,
berikan  itu  pada  musuh-musuh-Mu.  Dan  bila   ingin   Kau
limpahkan    padaku    nikmat   surgawi,   berikanlah   pada
sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup."
 
Ini tentu berkat  ke-"raja"-annya.  Lumrah.  Lain  bila  itu
terjadi  pada  Kang  Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya
sebut itu- tunanetra.
 
Kang Sejo pendek pula  doanya.  Bahasa  Arab  ia  tak  tahu.
Doanya  bahasa  Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah
tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat.  Soal  ruwet
apa  pun yang dihadapi, wiridannya satu: "Duh, Gusti, Engkau
yang tak pernah tidur ..." Cuma itu.
 
"Memang  sederhana,  wong  hidup  ini  pun   dasarnya   juga
sederhana," katanya, sambil memijit saya.
 
Saya  tertarik  cara  hidupnya.  Saya  belajar. Guru saya ya
orang  macam  ini,  antara  lain.   Rumahnya   di   Klender.
Kantornya,  panti  pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya
tanya, apa yang dilakukannya di sela  memijit,  dia  bilang,
"Zikir  Duh, Gusti ..." Di rumah, di jalan, di tempat kerja,
di mana pun, doanya ya Duh, Gusti ... itu. Satu  tapi  jelas
di tangan.
 
"Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?" tanya saya.
 
"Tidak saya hitung."
 
"Lho,  apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai,
baca ini sekian ribu, itu sekian ribu," kata saya
 
"Monggo mawon (ya, terserah saja)," jawabnya. "Tuhan memberi
kita  rezeki  tanpa  hitungan,  kok.  Jadi, ibadah pun tanpa
hitungan."
 
"Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang," saya memuji.
 
"Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid." Dia lalu ketawa.
 
Diam-diam  ia  sudah  naik  haji.  Langganan  lama,  seorang
pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu.
 
'Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?"
 
"Itu  kan  rezeki.  Dan  rezeki  datang dari sumber yang tak
terduga," katanya.
 
"Ayat menyebutkan itu, Kang."
 
"Monggo mawon. Saya tidak tahu."
 
Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.
 
"Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?"
 
"Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain ..."
 
"Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan."
 
Ia, konon, pernah menolak zakat  dari  seorang  tetangganya.
Karena  disodor-sodori,  ia  menyebut, "Duh, Gusti, yang tak
pernah  tidur  ..."  Pemberi  zakat  itu,  entah  bagaimana,
ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta
maaf.
 
"Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram"? tanya saya.
 
"Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali."
 
"Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?"
 
"Gusti Allah ora sare, Mas," jawabnya.
 
Ya, saya mengerti, Kang Sejo.  Ibarat  berjalan,  kau  telah
sampai.  Dalam  kegelapan  matamu  kau telah melihatNya. Dan
aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus
 
---------------
Mohammad Sobary, Tempo 12 Januari 1991
 
Tulisan Terkait :
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar